Di Detik.com Amien Rais memuji Slogan Prabowo dan Rizal Ramli yang mengusung Ekonomi Kerakyatan dan Kemandirian Nasional seraya menyayangkan capres lain yang hanya mengusung sistem Ekonomi Kapitalis Neoliberalis yang hanya menguntungkan segelintir pemilik modal.
Apa yang jadi Platform Ekonomi Partai Islam? Kapitalis Neoliberalis, Ekonomi Rakyat, atau Ekonomi Islam?
Read the rest of this entry »
Filed under: Ekonomi , Visi Ekonomi Partai Islam
Saat ini boleh dikata Visi Ekonomi Parpol Islam tidak jelas. Kalau mengenai masalah aliran sesat, pornografi, atau judi mungkin parpol Islam masih paham dan vokal soal itu. Tapi kalau menyangkut masalah ekonomi, sepertinya Parpol Islam belum menguasai Sistem Ekonomi mana yang sesuai dengan Islam, sehingga akhirnya Indonesia terjerumus ke dalam Sistem Ekonomi Kapitalis Neoliberalisme yang lebih menguntungkan Yahudi/AS ketimbang rakyat Indonesia/Ummat Islam. Padahal harusnya kita memeluk Islam secara Kaaffah (menyeluruh). Tidak setengah-setengah.
Sebagai contoh, 90% migas kita justru dikuasai perusahaan asing yang mayoritas dari AS, Negara kafir harbi yang saat ini membantai ummat Islam di Iraq dan Afghanistan dan merupakan pendukung utama negara Israel yang juga membantai Muslim di Palestina. Emas, Perak, Tembaga, dan kekayaan alam kita juga dikuasai perusahaan asing negara tersebut.
Read the rest of this entry »
Filed under: Ekonomi, Pemimpin Islam , Ekonomi Islam, Parpol Islam, Partai Islam, Sistem Ekonomi Islam, Visi Ekonomi Partai Islam
Karena dari kertas yang bahan+ongkos cetaknya tak lebih dari Rp 10/lembar, maka ketika dihargai jadi Rp 100.000, sulit sekali menahan nilainya dari gerusan inflasi. Akibatnya nilai rupiah terus merosot baik terhadap dollar atau pun harga barang lainnya.
Nilai rupiah pun terus turun dari semula 1 US$ = Rp. 1.88 tahun 1946 hingga 1 US$ = Rp. 12.000 tahun 2009
http://rachmad.kuyasipil.net/?p=44
Read the rest of this entry »
Filed under: Ekonomi , Dinar, Dinar emas, dirham, dollar AS, Inflasi, rupiah, US dollar, wakala nusantara
Komentar Terakhir